Senin, 24 Juli 2017 22:03:55 WIB Dilihat : 92 kali

Oleh: Dr. Sigit Purnama, M.Pd.

Hari anak secara nasional diperingati dan dirayakan setiap tanggal 23 Juli, yang pada tahun 2017 ini jatuh pada hari Ahad. Penetapan tanggal 23 Juli berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 tertanggal 19 Juli 1984 (wikipedia.org). Mengapa tanggal 23 Juli? Ada apa dengan 23 Juli? Pertanyaan yang wajar kita ajukan, mengingat pemilihan sebuah tanggal biasanya dilatari oleh suatu hal kejadian yang besar atau luar biasa yang terjadi pada tanggal itu. Sayang sekali, latar belakang pemilihan tanggal tersebut sampai hari ini tampaknya belum terkuak. Dari berbagai sumber, dijelaskan bahwa adanya hari anak nasional itu berawal dari gagasan Presiden RI ke-2 Soeharto, yang melihat anak-anak sebagai aset kemajuan bangsa.Tentang tanggal 23 Juli tidak atau belum ada penjelasannya.

Apapun, hari anak nasional menjadi penting untuk diperingati agar kita semua selalu ingat akan hak-hak anak. Bahwa anak-anak harus kita pastikan mendapatkan perlindungan akan hak-haknya, yakni (1) hak untuk hidup, tumbuh, serta berkembang dan berpartisipasi, (2) hal atas suatu nama sebagai identitas dan status kewarganegaraan, (3) hak untuk beribadah, berpikir, dan berekspresi, (4) hak untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang tuanya sendiri, (5) hak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial, (6) hak memperoleh pendidikan dan pengajaran, (7) hak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi, (8) hak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul, bermain, berekspresi, dan berkreasi, (9) hak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial bagi difabel, (10) hak medapatkan perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi, penelantaran, kekejaman, kekerasan, penganiayaan dan ketidakadilan, (11) hak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri, (12) hak untuk memperoleh perlindungan dari penyalahgunaan dalam kegiatan politik, pelibatan dalam kekerasan, sengketa bersenjata, kerusuhan sosial, dan peperangan, dan (13) hak memperoleh perlindungan dari sasaran penyiksaan, penganiayaan, atau penjatuhan hukum yang tidak manusiawi.

Kalau awal mulanya anak-anak dipandang sebagai aset kemajuan bangsa, hari ini aset tersebut terancam keberadaannya, sehingga dapat mengakibatkan kemajuan bangsa terhambat. Berbagai kasus yang terjadi yang melibatkan anak-anak, seperti bullying, narkoba, dan hate speech (ujaran kebencian) di medsos, menunjukkan anak-anak terancam keberadaannya. Komisi Perlindungan Anak (KPAI) melaporkan bahwa antara kurun waktu 2011-2016 telah terjadi 22.109 kasus yang mengancam eksistensi anak. Dari jumlah tersebut, ada dua kelompok kasus yang patut kita perhatikan, yakni kasus anak berhadapan hukum (ABH) sebanyak 7.698 kasus dan kasus anak yang berkaitan dengan keluarga dan pengasuhan alternatif sebanyak 4.294.

Ruang lingkup anak berhadapan dengan hukum mencakup anak sebagai pelaku tindak pidana, korban tindak pidana, atau saksi tindak pidana. Anak sebagai pelaku tindak pidana adalah anak yang disangka, didakwa atau dinyatakan terbukti bersalah melanggar hukum, dan memerlukan perlindungan. Beberapa kasus yang mengemuka, seperti kasus pencurian sendal jepit yang di kota Palu, penculikan bayi di Medan, dan kasus pelecehan seksual anak di Jakarta International School (JIS).

Adapun kasus yang berkaitan dengan keluarga dan pengasuhan alternatif patut juga menjadi perhatian semua pihak, sehingga tidak akan terjadi lagi penelantaran anak oleh orang tua sendiri misalnya. Bahwa sosok orang tua, yakni ibu dan ayah, sangat penting keberadaannya bagi pertumbahan dan perkembangan anak. Benarlah dikatakan bahwa ‘cinta seorang ibu itu menenangkan, dan cinta seorang ayah itu menguatkan’. Dengan demikian, tidak akan terjadi lagi istilah father lose dan mother lose (memiliki ayah tetapi tidak berayah, mempunyai ibu tetapi tidak beribu.

Wal hasil, anak adalah cahaya, manakala ia dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Tugas kita semua untuk memfasilitasi, melindungi, dan memastikan ia dapat tubumbuh dan berkembang. Harapannya, cahaya itu bisa menerangi tidak hanya bagi kedua orang tuanya, akan tetapi anda dan kita semua. Wallahu ‘alam.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom